Monday, August 01, 2005

Lasipan, Sang Pejuang


Lasipan adalah sebuah nama sederhana, yang pada zamannya merupakan nama umum bagi anak-anak desa di belahan bumi Jawa bagian timur sebagaimana nama-nama lain seperti Kasiran, Milan, Basuki, Ramelan dsb.

Senyatanya Lasipan memang sebuah pribadi sederhana dan supel, "grapyak" kata orang di sekitarnya. Seorang anak 'ndeso' berasal dari desa kecil bernama Sumberteguh, kecamatan Ploso, kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ia adalah anak seorang janda bernama (mbok) Muah yang telah ditinggal ayahandanya ketika masih kecil.

Pendidikan formalnya hanyalah setingkat sekolah dasar dimasa pergolakan saat itu (1930-1940). Beliau meninggalkan bangku sekolah pada usia sekitar 13 tahun dan telah ikut berjuang memanggul senjata pada usia 15 tahun. Karena tubuhnya yang kecil dan pendek (1.55m) tugas pertama didalam pasukannya adalah di bagiam PMR (palang merah). Tugas perta ini pulalah yang membawa karirnya sebagai paramedis militer.

Selama karirnya beliau telah menjelajah daerah pergolakan seperti Permesta di Sumatera Barat (1947), Pemberontakan Kahar Muzakar di Sulsel/Sultra (1950an), Konfrontasi dengan Malaysia di Kalimantan Utara (akhir 1950an), serta pembebasan Irian Barat di Manokwari dan Merauke pada awal tahun 60an.

Berbagai jenis penghargaan dan bintang perjuangan telah diterimanya dan karenanya beliau memperoleh penghargan dengan upacara militer pada akhir hayatnya. Beliu meninggal dan dikuburkan di pemakaman umum Banyuajuh, Kamal Bangkalan, Jawa Timur.

Di bawah ini adalah ringkasan dan gambar anak dan cucu Bpak Lasipan.


Tengah: Bp. Lasipan HP dan Ibu Hj. Nabota
Kiri Bawah: Keluarga Dr. Ir Sugeng Purwanto (anak pertama), Kanan Bawah: Keluarga G. Ilhamto (anak kedua), Kanan atas: Keluarga Tri Siswo Raharjo (anak ketiga), Kiri atas: Keluarga dr. Joni Subagio (anak keempat), Atas tengah: Keluarga Ir. Dodik Irianto (anak kelima), Tengah bawah: Keluarga Ir. Neny Widyanti/Agung (anak keenam), Tengah atas: Budi Setyono (semasa bujang).



Beberapa foto kenangan



Foto tahun 1953 ketika baru menikah dengan ibunda Nabota Riwua asal Wawotobi, Kendari. Pada saat itu Bapak adalah prajurit dari kesatuan Brawijaya Jawa Timur dalam penugasan pemberantasan pemberontakan Kahar Muzakar.











Yang ini adalah foto semasa di Surabaya (awal tahun 60).













Foto modifikasi dengan mountage Tank Abrams.
















Foto setelah pensiun (dalam masa bahagia bersama cucu di tahun 2000).















Foto saat menghadiri wisuda anak keempat (Dr. Joni Subagio) di Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

















Foto Bapak Ibu bersama Haji Mat Anwar dan Nyai. Kedua beliau dan terutama Haji Mat Ali alm. (ayah Haji Mat Anwar) adalah guru mengaji anak-anak pak Lasipan. Guru mengaji yang lain adalah Mbah Sastro di Jl. Merak 4 Sampang.










Kenangan semasa aktif bermain tennis. Bapak (jongkok) bersama teman-teman: Om Tjai Po, Pak Hidayat, Taufik, Lupa, Om Tjok King dan Hery Gunawan.













Kenang-kenangan Bapak Lasipan dan Ibu Nabota dalam wisuda sarjana satu-satunya anak perempuan Bapak, Ir. Neny Widyanti dari UWK Surabaya.

Kembali ke pangkuan-Nya
3 November 2003

Nasehat-nasehat Bapak yang saya ingat
(special quotes):

1. Wis tah, .. ojo nduweni niat dadi tentara. ham, tentara iku sengsoro uripe.
waktu itu saya jawab: "opo dadi hansip ae tah pak?"

No comments: